Saya manusia, dan Anda pun, selama Anda mampu membaca tulisan ini, saya asumsikan adalah manusia juga. Dus, Anda dan saya rentan terhadap kesalahan, kebodohan dan kepongahan. Ya, bukan saya bila saya bicara berat di sini, melulu kedokteran tidaklah menyenangkan pula. Saya mahasiswa kedokteran, mungkin juga Anda, jadi, mungkin Anda akan (atau sudah) mengalami cerita bodoh, atau memalukan, yang mungkin kadang menjadi keterlaluan.
Cerita ini bukan tentang saya, atau mungkin tentang saya..hanya saya saja manusia yang tahu :p
–oooOooo–
Seorang ibu datang membawa anaknya kepada mahasiswa kedokteran di suatu rumah sakit. Dia mengeluhkan anaknya menderita penyakit yang mengkhawatirkan. Luka di kaki kanannya tidak juga sembuh, bahkan setelah berbulan-bulan. Si mahasiswa kedokteran pun menjelaskan dengan gamblang, bahwa sangatlah mungkin hal itu karena si anak yang terus menerus menggaruk luka tersebut, sehingga luka tersebut melebar dan terjadilah infeksi yang menumpang di situ. Si mahasiswa ini, sebut saja X, melakukan anamnesis mendalam serta pemeriksaan fisik yang mendetil.
Tidak ada kesimpulan. Semuanya mengambang.
Sampai suatu saat seorang ibu perawat, Z, berjalan melewati mereka, dan terhenti terhenyak karena melihat luka yang sedemikian. Dia tidak berkata apapun kecuali menghibur ibu si anak. Dahinya mengernyit sejenak, dan berkata,
Z : dok, apa ini dok?
X : wah, sepertinya ini hanya luka yang tidak sembuh karena digaruk kok bu. (Oh, come on, everybaby in this world knows that!)
Z : Mungkin tidak ini dermatitis numularis dok?
X : Hmm..bukan kok bu, hanya satu begitu, tidak ada lesi lain. Yah, karena digaruk-garuk saja.
Z : Oh begitu, baiklah.
Ibu perawat tersenyum kepada ibu si anak, dan berlalu untuk melanjutkan tugasnya.
Lama berselang, si dokter ahli Q, mentor si mahasiswa, tiba. Ia melihat lesi tersebut, lalu bertanya pada si mahasiswa,
Q : Apa itu dik?
X : Saya rasa luka tidak sembuh karena trauma berulang, dokter.
Q : Itu dermatitis numularis ya dik.
X : ???



