“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” (JAS MERAH, 17 Agustus 1966, Presiden Soekarno)
Ya.
Saya bukan pengagum berat Bung Karno, saya lebih terkesan dengan Bung Hatta. Dan mungkin konteks jargon tersebut di atas tidak berkaitan dengan topik yang saya ingin singgung, bahkan bertolakbelakang dengan situasi pada masa itu, namun secara literer, saya setuju terhadapnya.
Saya hanya miris kalau mendengar banyak orang akhir-akhir ini menghujat-hujat sesuatu dengan beralasan rasa nasionalisme, yang mungkin definisinya tidak mereka pahami. Saya hobi membaca sejarah, dan baru-baru ini saya kembali (untuk keempat kalinya) menonton mini seri televisi Band of Brothers yang saya rasa, maaf, masih jauh lebih baik unsur kenyataannya dari film layar lebar berjudul bendera kita. Latar tempat salah satu episodenya adalah di Normandia, pada 6 Juni 1944. Pendeknya, kota tersebut hancur oleh berbagai macam artileri sekutu maupun Jerman.
Mari kita lihat sekilas gambaran suasana Normandia, Perancis, pada waktu itu, dan perbandingannya beberapa waktu lalu.

Normandia, Hari H, 6 Juni 1944

Normandia, Masa Kini
Sumber: http://www.stumbleupon.com/
Bandingkan dengan Yogyakarta, di sekitar Jl Malioboro, pada perang mempertahankan kemerdekaan tahun 1949 dengan situasinya pada saat ini.

Malioboro, 1949

Malioboro, Masa Kini
Sumber: http://www.tembi.org/
Saya menyaksikan salah satu acara sindir-menyindir di Metr*TV minggu lalu, salah satu bintang tamunya dengan berapi-api nyeplos (bicara-red) kira-kira begini:
Orang Indonesia itu malu kalau ga tau budaya barat, tapi ga malu kalau ga tau budaya sendiri.
Peninggalan sejarah Indonesia, bagaimanapun, seyogyanya dijaga keotentikannya, agar menjadi tonggak yang menyebarkan rasa kepada segenap warga Indonesia, yang masih malu kalau ga tau budayanya sendiri. Tidak usah mengandalkan presiden dan kabinetnya, kita sendiri dengan cara kita sendiri pun bisa. Sekadar mendokumentasikan sebuah pohon tua yang besar dan rindang pun bisa menjadi kenangan tersendiri.




